EKONOMI DI ERA NEW NORMAL
EKONOMI
DI ERA NEW NORMAL
Pandemi Covid-19
masih menyebar di wilayah Indonesia yang mengubah kondisi sektor kehidupan . Covid-19
tidak hanya memberikan dampak pada aspek kesehatan tapi juga pendidkan, politik
dan ekonomi di Indonesia. Bisa dikatakan keadaan ekonomi Indonesia tidak
stabil. Kemiskinan meningkat dan teknik jual-beli yang dilakukan tanpa tatap
muka alias online semakin gencar. Salah satu upaya penyelamatan pemerintah terhadap
ekonomi Indonesia yaitu era new normal.
Di era new normal
ini, diharapkan bisa membantu mengatasi perekonomian Indonesia agar stabil
kembali, menghilangkan lapangan pekerjaan dan menekan kasus PHK dari suatu
perusahaan.
Persiapan jelang new normal ditandai
dengan keluarnya Surat Edaran (SE) Menteri Kesehatan Nomor
HK.02.01/Menkes/335/2020 tentang Sektor Jasa dan Perdagangan (Area Publik)
dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha. Dalam SE tersebut, diatur protokol
kesehatan bagi pengelola tempat kerja, pelaku usaha, serta pekerja. Dokumen
tersebut menjadi acuan bagi sektor usaha saat kembali menjalankan bisnis dengan
menerapkan adaptasi kebiasaan baru.
Dikutip dari Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani
Indrawati memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2020 sebesar 0
persen hingga -2 persen. Apabila nantinya ekonomi tercatat negatif maka secara
teknik Indonesia masuk zona resesi. Meski demikian, hal ini bukan sesuatu
yang sangat buruk.
"Kalau kita lihat
aktivitas masyarakat sama sekali belum normal. Oleh karena itu, kalau secara
teknik nanti kuartal III ada di zona negatif maka resesi itu terjadi. Namun itu
tidak berarti bahwa kondisinya adalah sangat buruk," ujar Sri Mulyani usai
rapat kerja dengan DPR, Jakarta, Senin (7/9/2020)
sesuatu yang sangat buruk.
"Kalau kita lihat aktivitas
masyarakat sama sekali belum normal. Oleh karena itu, kalau secara teknik nanti
kuartal III ada di zona negatif maka resesi itu terjadi. Namun itu tidak
berarti bahwa kondisinya adalah sangat buruk," ujar Sri Mulyani usai rapat
kerja dengan DPR, Jakarta, Senin (7/9/2020).
Sri Mulyani melanjutkan,
pertumbuhan ekonomi Indonesia masih jauh lebih baik dibanding negara-negara
lainnya yang mengalami kontraksi ekonomi hingga negatif 20 persen. Bahkan
negara-negara tersebut sudah lebih dulu memasuki zona resesi dibandingkan
dengan Indonesia.
"Karena kalau kita lihat,
kontraksinya lebih kecil dan menunjukkan adanya pemulihan dibidang konsumsi,
investasi melalui dukungan dan belanja pemerintah akselerasi cepat. Dan kita
juga berharap ekspor sudah mulai baik, kita lihat satu bulan atau beberapa
bulan terakhir terjadi kenaikan yang cukup baik," paparnya.
"Dibandingkan negara lain
yang kontraksinya sangat dalam, kita sebetulnya dalam posisi yang relatif lebih
baik karena kita di 5,3 persen itu dibandingkan dengan negara yang kontraksinya
mencapai negatif 17 hingga negatif 20 persen, itu sangat dalam,"
sambungnya
Pemerintah tetap berupaya dengan
segala cara untuk memulihkan ekonomi di tengah pandemi Virus Corona. Seluruh
mesin pertumbuhan ekonomi seperti konsumsi, investasi dan ekspor terus didorong
agar mampu mendongkrak ekonomi di kuartal III tahun ini.
"Jadi kita tetap berusaha,
akselerasi seluruh belanja pemerintah dan program ekonomi akan terus
dilaksanakan sehingga konsumsi masyarakat secara bertahap pulih dan investasi
secara bertahap pulih. Ekspor juga mulai didorong. Maka mesin pertumbuhan di
antara konsumsi, investasi dan ekspor dan pemerintah pertumbuhan kuartal III
akan lebih baik," tandasnya.
Daftar
Pustaka
Reporter: Anggun P. Situmorang
Sumber: Merdeka.com
Komentar
Posting Komentar